Oleh: Wahono, BPMI – UMM
Dalam pandangan Islam, setiap amanah pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, tak terkecuali dalam dunia pendidikan tinggi. Lulusan perguruan tinggi tidak hanya sekadar lulus, tetapi mereka membawa nama baik institusi, nilai keilmuan, serta karakter ke tengah masyarakat. Oleh karena itu, menjaga mutu lulusan bukan sekadar kewajiban administratif semata, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)
Survei Sebagai Ikhtiar Pencegahan
Islam mengajarkan kita akan pentingnya kewaspadaan dan melakukan pencegahan sebelum masalah menjadi besar. Prinsip ini sangat sejalan dengan fungsi survei kepuasan pengguna lulusan yang bertindak sebagai sistem peringatan dini (early warning system) terhadap mutu lulusan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan mempersiapkan diri untuk apa yang akan datang.” (HR. Tirmidzi).
Maka, kuesioner ini sejatinya bukan alat untuk mencari pujian atau sekadar mengejar angka kepuasan setinggi mungkin. Tujuannya lebih mulia, yaitu membantu perguruan tinggi mempersiapkan diri dalam menghadapi risiko mutu lulusan di masa depan.
Mengapa Dimensi Kuesioner Disusun Seperti Itu?
Setiap dimensi pertanyaan dalam kuesioner tidak dibuat sembarangan, melainkan dirancang untuk membaca area risiko utama dalam mutu lulusan:
-
Sikap dan Etika Profesional (Risiko Karakter) Islam menempatkan akhlak sebagai fondasi utama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Jika pengguna lulusan memberi penilaian rendah di sini, risikonya bukan hanya soal kinerja, tapi rusaknya kepercayaan—sesuatu yang sangat sulit diperbaiki.
-
Komunikasi dan Kerja Sama (Risiko Relasi Sosial) Dunia kerja menuntut kemampuan bekerja bersama dan saling menghargai. Nilai rendah pada dimensi ini adalah sinyal bahwa lulusan berpotensi kesulitan beradaptasi dalam organisasi.
-
Penguasaan Keilmuan dan Pemecahan Masalah (Risiko Relevansi Ilmu) Dimensi ini memastikan ilmu yang diajarkan benar-benar bisa digunakan, bukan sekadar dihafal. Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36).
-
Teknologi dan Adaptasi (Risiko Ketertinggalan Zaman) Perubahan adalah keniscayaan. Skor rendah di sini menjadi peringatan bahwa lulusan berisiko tertinggal dalam dunia kerja yang terus berubah.
-
Kreativitas dan Kepemimpinan (Risiko Daya Saing) Islam mendorong umatnya menjadi pelopor kebaikan. Dimensi ini membaca apakah lulusan memiliki potensi menjadi penggerak dan pemberi solusi.
Kepuasan Umum sebagai Indikator Risiko Sistemik
Pertanyaan mengenai kepuasan pengguna secara keseluruhan berfungsi sebagai indikator risiko institusional. Jika kepuasan umum menurun, itu tandanya risiko sudah tidak lagi parsial, melainkan menyentuh sistem pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, pertanyaan terbuka dalam kuesioner memberikan ruang nasihat dari pengguna lulusan, yang merupakan masukan sangat bernilai dalam budaya mutu yang sehat.
Dari Kuesioner Menuju Mitigasi Risiko
Setiap penilaian harus diikuti dengan perbaikan (islah). Allah SWT berfirman:
“… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Hasil kuesioner harus menjadi dasar untuk tiga hal:
-
Mengidentifikasi risiko mutu lulusan.
-
Menelusuri akar masalah pada kurikulum dan pembelajaran.
-
Menetapkan tindakan pengendalian dan peningkatan mutu.
Dengan cara ini, kuesioner menjadi ikhtiar mitigasi risiko yang nyata, bukan sekadar pelengkap dokumen akreditasi.
Penutup: Menjaga Mutu sebagai Amal Berkelanjutan
Kuesioner kepuasan pengguna lulusan tidak dirancang untuk memamerkan kesempurnaan, melainkan membantu institusi untuk bersikap jujur, rendah hati, dan terus belajar. Dalam semangat amanah, itqan (kesungguhan), dan istiqamah, survei ini menjadi alat refleksi agar perguruan tinggi tidak lalai dalam menyiapkan lulusan yang bermanfaat.
Ketika data ini dibaca dengan jujur dan ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh, maka upaya menjaga mutu lulusan bukan lagi sekadar kerja administratif, melainkan sebuah amal profesional yang bernilai ibadah.